MANAJEMEN
DAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN
ANALISA
KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN
![]() |
Kelompok
3:
1.
Anis Khoirunnisa (P17420512003)
2.
Elyda Marisa Dewi (P17420512015)
3.
Ni
Made Raysita Dewi (P17420512027)
4.
Warsito (P17420512039)
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI
DIII KEPERAWATAN MAGELANG
2013/2014
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ketenagaan merupakan
salah satu sumber daya yang diperlukan dalam sistem kesehatan suatu negara
untuk meningkatkan kesehatan hidup masyarakat. Ketenagaan membutuhkan masa
persiapan yang terpanjang dibandingkan dengan sumber daya yang lain dan
tergantung yang menyalurkan mobilisasi atau usaha-usaha untuk pemerataan
pelayanan. Efektifitas dan efisiensi ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator keberhasilan rumah
sakit bila didukung oleh ketersediaan jumlah sumber daya manusia yang cukup
dengan kualitas yang tinggi profesional sesuai dengan fungsi dan tugas setiap
pegawai.
Berdasarkan
penelitian WHO (1997),beberapa Negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia ditemukan
fakta bahwa perawat yang bekerja di rumah sakit menjalani peningkatan beban
kerja dan masih mengalami kekurangan perawat. Hal ini disebabkan karena peran
perawat belum didefinisikan dengan baik, dan perawat yang lain masih banyak
yang tidak mementingkan absensi. Dengan tanpa dipungkiri lagi bahwa perawat
merupakan kelompok terbesar di era rumah sakit sehingga baik buruknya pelayanan
rumah sakit adalah merupakan citra dari kelompok perawat sebagai jasa pemberian
pelayanan keperawatan. Efektifitas dan efisiensi ketenagaan dalam keperawatan
juga sangat ditunjang oleh pemberian asuhan keperawatan yang tepat dan
kompetensi perawat yang memadai. Oleh karena itu, perlu kiranya dilakukan
perencanaan yang strategis dan sistematis dalam memenuhi kebutuhan tenaga
keperawatan.
B. Rumusan
Masalah
Fakta di atas
menunjukkan bahwa ketenagakerjaan merupakan indikator penting untuk
keberhasilan suatu rumah sakit melakukan pelayanan pada masyarakat. Hal ini
mengarahkan untuk menganalisa kebutuhan tenaga kerja di bidang keperawatan yang
efektif dan efisien.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umumnya adalah agar mengetahui perhitungan
ketenagakerjaan yang efektif dan efisien
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang perhitungan tenaga perawatan yang
ada di rumah sakit.
b. Mengetahui hakekat dan prinsip – prinsip dalam ketenagakerjaan.
c. Mengetahui metode perhitungan
dalam keperawatan.
d. Dengan adanya pre planning ini
diharapkan agar menambah pengetahuan tentang pembagian tenaga perawat di sebuah
unit di rumah sakit secara efektif dan efisien.
BAB 2
LANDASAN TEORI
A.
Hakekat Ketenagakerjaan
Hakekat ketenagakerjaan pada intinya adalah
pengaturan, mobilisasi potensi, proses motivasi, dan pengembangan sumber daya
manusia dalam memenuhi kepuasan melalui karyanya. Hal ini berguna untuk tercapainya
tujuan individu, organisasi, ataupun komunitas dimana ia berkarya.
Keputusan yang diambil tentang
ketenagakerjaan sangat dipengaruhi oleh falsaah yang dianut oleh pimpinan
keperawatan tentang pendayagunaan tenaga kerja. Misalnya, pandangan tentang
motivasi kerja dan konsep tentang tenaga keperawatan. Dari pandangan tersebut
akan terbentuk pola ketenagakerjaan yang disesuaikan dengan gambaran pimpinan.
B.
Prinsip – Prinsip Dalam Ketenagakerjaan
1. Pembagian
Kerja
Prinsip dasar untuk mencapai efisiensi yaitu pekerjaan dibagi-bagi sehingga
setiap orang memilik tugas tertentu. Untuk ini kepala bidang keperawatan perlu
mengetahui tentang :
a. Pendidikan dan pengalaman setiap staf,
b. Peran dan fungsi perawat yang diterapkan di RS tersebut,
c. Mengetahui ruang lingkup tugas kepala bidang
keperawatan dan kedudukan dalam organisasi,
d. Mengetahui batas wewenang dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya,
e. Mengetahui hal- hal yang dapat didelegasikan kepada
staf dan kepada tenaga non keperawatan.
Hal-hal yang
perlu diperhatikan pada pengelompokkan dan pembagian kerja;
a.
Jumlah tugas
yang dibebankan seseorang terbatas dan sesuai dengan kemampuannya,
b.
Tiap bangsal
/ bagian memiliki perincian aktivitas yang jelas dan tertulis,
c.
Tiap staf
memiliki perincian tugas yang jelas,
d.
Variasi
tugas bagi seseorang diusahakan sejenis atau erat hubungannya,
e.
Mencegah
terjadinya pengkotakkan antar staf/kegiatan,
f.
Penggolongan tugas berdsasarkan kepentingan mendesak, kesulitan dan waktu.
Disamping itu setiap staf mengetahui kepada siapa dia harus melapor, minta
bantuan atau bertanya, dan siapa atasan langsung serta dari siapa dia menerima
tugas.
2. Pendelegasian
Tugas
Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada staf
untuk bertindak dalam batas-batas tertentu. Dengan pendelegasian, seorang
pimpinan dapat mencapai tujuan dan sasaran kelompok melalui usaha orang lain,
hal mana merupakan inti manajemen. Selain itu dengan pendelegasian , seorang
pimpinan mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain yang lebih
penting seperti perencanaan dan evaluasi. Pendelegasian juga merupakan alat
pengembangan dan latihan manajemen yang bermanfaat.
Langkah yang
harus ditempuh agar dapat melakukan pendelegasian yang efektif :
a. Tetapkan tugas yang akan didelegasikan,
b. Pilihlah orang yang akan diberi
delegasi,
c. Berikan uraian tugas yang akan
didelegasikan dengan jelas,
d. Uraikan hasil spesifik yang anda
harapkan dan kapan anda harapkan hasil tersebut,
e. Jelaskan batas wewenang dan tanggung jawab yang
dimiliki staf tersebut,
f. Minta staf tersebut menyimpulkan pokok tugasnya dan
cek penerimaan staf tersebut atas tugas yang didelegasikan,
g. Tetapkan waktu untuk mengontrol perkembangan,
h. Berikan dukungan,
i.
Evaluasi
hasilnya.
3. Koordinasi
Koordinasi
adalah keselarasan tindakan, usaha, sikap dan penyesuaian antar tenaga yang ada
dibangsal. Keselarasan ini dapat terjalin antar perawat dengan anggota tim kesehatan
lain maupun dengan tenaga dari bagian lain.
Manfaat
Koordinasi:
a. Menghindari perasaan lepas antar tugas yang ada di
bangsal bagian dan perasaan lebih penting dari yang lain
b. Menumbuhkan rasa saling membantu
c. Menimbulkan kesatuan tindakan dan sikap antar staf
Cara koordinasi:
Komunikasi
terbuka, dialog, pertemuan/rapat, pencatatan dan pelaporan, pembakuan formulir
yang berlaku.
4. Manajemen Waktu
Dalam mengorganisir sumber daya, sering kepala bidang
keperawatan mengalami kesulitan dalam mengatur dan mengendalikan waktu. Banyak
waktu pengelola dihabiskan untuk orang lain. Oleh karena itu perlu pengontrolan
waktu sehingga dapat digunakan lebih efektif. Untuk
mengendalikan waktu agar lebih efektif perlu :
a. Analisa waktu yang dipakai; membuat agenda harian
untuk menentukan kategori kegiatan yang ada
b. Memeriksa kembali masing-masing porsi dari tiap
aktivitas
c. Menentukan prioritas pekerjaan menurut kegawatan, dan
perkembangannnya serta tujuan yang akan dicapai
d. Mendelegasikan
Hambatan yang sering terjadi pada
pengaturan waktu
a. Terperangkap dalam pekerjaan
b. Menunda karena takut salah
c. Tamu yang tidak terjadwal
d. Telpon
e. Rapat yang tidak produktif
f. Peraturan “open door”
g. Tidak dapat mengatakan “tidak”
pada hal-hal yang tidak perlu
C. Perhitungan Tenaga Perawat.
Di dalam
penerapan kebutuhan ketenagakerjaan harus diperhatikan adanya faktor yang
terkait beban kerja perawat, diantaranya seperti berikut:
1. Jumlah klien
yang dirawat/hari/bulan/tahun dalam suatu unit
2. Kondisi atau tingkat ketergantungan klien
3. Rata-rata hari perawatan klien
4. Pengukuran perawatan langsung dan tidak langsung
5. Frekuensi tindakan yang dibutuhkan
6. Rata-rata waktu keperawatan langsung dan tidak
langsung
7. Pemberian cuti
Sumber
Daya Manusia / Ketenagaan
1) Tenaga Keperawatan
Tenaga keperawatan di ruang kardiologi
RSUD Dr. Soetomo Surabaya terdiri dari tenaga perawat dan mahasiswa keperawatan
yang praktek. Rincian tenaga yang tersedia sebagai berikut :
a)
D
III Keperawatan + Sarjana Kesehatan Masyarakat :
1 orang
b)
D
III Keperawatan :
9 orang
c)
Sekolah
Perawat Kesehatan :
5 orang
d)
Sekolah
Pengatur Rawat :
1 orang
e)
Mahasiswa
PSIK praktik klinik manajemen keperawatan: 6 orang
f)
Mahasiswa
D IV praktik medikal bedah :
1 orang
g)
Pekarya
kesehatan :
8 orang
2) Tenaga Non Keperawatan
Tenaga non keperawatan di ruang
kardiologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya terdiri dari :
a)
Dokter
PPDS (untuk kelas terdiri dari 2 orang)
b)
DM
praktik
c)
Ahli
gizi :
1 orang
d)
Pekarya
rumah tangga : 7
orang
e)
Tata
Usaha :
1 orang
f)
Tenaga
perpustakaan : 1
orang
BAB 3
PEMBAHASAN
A.
Analisa
Kebutuhan Tenaga Kerja
Metode yang digunakan dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja adalah berupa
analisis kebutuhan tenaga kerja (work force analysis). Menurut Martoyo
(1996:26) bahwa: “yang dimaksud dengan analisis kebutuhan tenaga kerja adalah
melakukan analisis terhadap kemampuan tenaga kerja yang sekarang untuk memenuhi
kebutuhan jumlah karyawan”, dan menurut Komaruddin (1996:41) bahwa: “analisis
kebutuhan tenaga kerja bertujuan untuk menetapkan kebutuhan akan personalia
yang digunakan untuk dapat mempertahankan kesinambungan norma suatu
perusahaan”.
1. Analisis Beban Kerja (Work Load Analysis)
Analisis beban kerja (work load analysis) menurut
Ranupandojo dan Suad Husnan (1990: 322) serta oleh Komarrudin (1996 :43)
diformulasikan sebagai berikut:
WLA =
(TMH/MHU) x1 man
dimana:
TMH = Total man hour
TMH = Total man hour
WLA = Work load analysis
MHU = Man hour per unit
Hasil
langsung dari analisi beban kerja adalah penetapan bilangan jumlah karyawan
yang diperlukan untuk melaksanakan sejumlah pekerjaan tertentu selama waktu
tertentu.
2. Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja ( Work Force Analysis
)
Menurut
Martoyo (1996: 26) menyatakan bahwa “analisis kebutuhan tenaga kerja adalah
untuk mengetahui tenaga kerja senyatanya yang diperlukan, ikut diperhitungkan
juga tingkat absensi dan tingkat perputaran tenaga kerja (labour turn over)”.
WFA = WLA +
(% Ab x WLA + % LTO x WLA)
dimana:
WFA = Work force analysis = analisa kebutuhan tenaga kerja
WFA = Work force analysis = analisa kebutuhan tenaga kerja
WLA = work load analysis = analisa
jumlah beban kerja
%Ab = %absence = % ketidakhadiran
tenaga kerja dalam periode tertentu
LTO = labour turn over = perputaran
tenaga kerja dalam periode tertentu
Menurut
Gorda (1994: 39) tingkat absensi dapat dirumuskan sebagai berikut:
% absensi =
(HKH/HKT) x 100%
dimana:
HKH = Hari kerja yang hilang = hari karyawan tidak bekerja dalam periode tertentu.
HKH = Hari kerja yang hilang = hari karyawan tidak bekerja dalam periode tertentu.
HKT = Hari
kerja karyawan yang tersedia.
Persentase
perputaran karyawan (labour turn over) oleh Komaruddin (1996:4) dirumuskan
sebagai berikut:
% PK =
(JGK/RKP) x 100%
Dimana:
JGK = Jumlah pergantian karyawan = jumlah karyawan yg keluar dalam periode tertentu
JGK = Jumlah pergantian karyawan = jumlah karyawan yg keluar dalam periode tertentu
PK = Perputaran karyawan
RKP = Rata-rata karyawan satu
periode = total jumlah karyawan satu periode dibagi periode tersebut.
B.
Metode – metode Cara Perhitungan Ketenagakerjaan
Tingkat ketergantungan perhitungan tenaga perawat ada
beberapa metode, antara lain yaitu
1. Metode Douglas
Douglas (1984, dalam Swansburg
& Swansburg, 1999) menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu
unit perawatan berdasarkan klasifikasi klien, dimana masingmasing kategori
mempunyai nilai standar per shift nya, yaitu sebagai berikut :
Jumlah
Pasien
|
Klasifikasi KLien
|
||||||||
Minimal
|
Parsial
|
Total
|
|||||||
Pagi
|
Sore
|
Malam
|
Pagi
|
Sore
|
Malam
|
Pagi
|
Sore
|
Malam
|
|
1
|
0,17
|
0,14
|
0,07
|
0,27
|
0,15
|
0,10
|
0,36
|
0,30
|
0,20
|
2
|
0,34
|
0,28
|
0,14
|
0,54
|
0,30
|
0,20
|
0,72
|
0,60
|
0,40
|
3
|
0,51
|
0,42
|
0,21
|
0,81
|
0,45
|
0,30
|
1,08
|
0,90
|
0,60
|
dst
|
|||||||||
Dalam suatu
penelitian Douglas, (1975) tentang jumlah tenaga perawat di rumah sakit,
didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore dan malam tergantung
pada tingkat ketergantungan pasien seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel
klasifikasi tingkat ketergantungan pasien (berdasarkan teori D. Orem: Self-Care
Deficit)
NO
|
KLASIFIKASI
& KRITERIA
|
YA
|
TIDAK
|
KET.
|
I.
|
MINIMAL
CARE
1.
Pasien
bisa mandiri / hampir tidak memerlukan bantuan
1)
Mampu
naik – turun tempat tidur
2)
Mampu
ambulasi dan berjalan sendiri
3)
Mampu
makan & minum sendiri
4)
Mampu
mandi sendiri / mandi sebagian dengan bantuan
5)
Mampu
membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
6)
Mampu
berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
7)
Mampu
BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
2.
Status
psikologis stabil
3.
Pasien
dirawat untuk prosedur diagnostik
4.
Operasi
ringan
|
|||
II.
|
PARTIAL
CARE
1.
Pasien
memerlukan bantuan perawat sebagian
1)
Membutuhkan
bantuan 1 orang untuk naik – turun tempat tidur
2)
Membutuhkan
bantuan untuk ambulasi / berjalan
3)
Membutuhkan
bantuan dalam menyiapkan makanan
4)
Membutuhkan
bantuan untuk makan (disuap)
5)
Membutuhkan
bantuan untuk kebersihan mulut
6)
Membutuhkan
bantuan untuk berpakaian dan berdandan
7)
Membutuhkan
bantuan untuk BAB & BAK (tempat tidur/kamar mandi)
2.
Post
operasi minor (24 jam)
3.
Melewati
fase akut dari post operasi mayor
4.
Fase
awal dari penyembuhan
5.
Observasi
tanda-tanda vital setiap 4 jam
6.
Gangguan
emosional ringan
|
|||
III
|
TOTAL
CARE
1.
Pasien
memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat yang lebih
lama
1)
Membutuhkan
2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke kereta dorong/korsi
roda
2)
Membutuhkan
latihan pasif
3)
Kebutuhan
nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intra vena (infus) atau NG Tube
(sonde)
4)
Membutuhkan
bantuan untuk kebersihan mulut
5)
Membutuhkan
bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
6)
Dimandikan
perawat
7)
Dalam
keadaan inkontinensia, menggunakan kateter
2.
24
jam post operasi mayor
3.
Pasien
tidak sadar
4.
Keadaan
pasien tidak stabil
5.
Observasi
TTV setiap kurang dari jam
6.
Perawatan
luka bakar
7.
Perawatan
kolostomi
8.
Menggunakan
alat bantu pernapasan (respirator)
9.
Menggunakan
WSD
10. Irigasi kandung kemih secara terus
menerus
11. Menggunakan alat traksi (skeletal
traksi)
12. Faktur dan atau pasca operasi tulang
belakang / leher
13. Gangguan emosional berat, bingung
dan disorientasi
|
Contoh kasus :
Ruang rawat dengan 17 orang klien, dimana 3 orang
dengan ketergantungan minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6
orang dengan ketergantungan total.
Maka jumlah perawat yang dibutuhkan :
Minimal
|
Parsial
|
Total
|
Jumlah
|
|
Pagi
|
0,17 x 3 = 0,51
|
0.27 x 8 = 2.16
|
0.36 x 6 = 2.16
|
4.83 (5) orang
|
Sore
|
0.14 x 3 = 0.42
|
0.15 x 8 = 1.2
|
0.3 x 6 = 1.8
|
3.42 (4) orang
|
Malam
|
0.07 x 3 = 0.21
|
0.10 x 8 = 0.8
|
0.2 x 6 = 1.2
|
2.21 (2) orang
|
Jumlah secara keseluruhan
perawat perhari 11 Orang
|
||||
2. Metode Sistem Akuitas
Kelas I : 2
jam/hari
Kelas II : 3
jam/hari
Kelas III :
4,5 jam/hari
Kelas IV : 6
jam/hari
Untuk tiga kali pergantian
shift �¨ Pagi :
Sore : Malam = 35% : 35 % : 30%
Contoh :
Rata rata jumlah klien
1. kelas
I =
3 orang x 2
jam/hari = 6 jam
2. kelas
II = 8 orang x 3
jam/hari = 24 jam
3. kelas
III = 4 orang x
4.5 jam/hari = 18
jam
4. kelas IV =
2 orang x 6 jam/hari = 12 jam
Jumlah
jam : 60 jam
Pagi/sore = 60 jam x 35% = 2.625 orang (3 orang)
8 jam
Malam = 60 jam x 30% = 2.25 orang (2 orang )
8 jam
Jadi jumlah perawat dinas 1 hari
= 3+3+2 = 8 orang.
3. Metode Gillies
Gillies (1994) menjelaskan rumus kebutuhan tenaga
keperawatan di suatu unit perawatan adalah sebagai berikut :
Jumlah jam
keperawatan rata rata :
= Jumlah yang dibutuhkan
klien/hari x klien/hari x hari/ tahun
Jumlah hari/tahun - hari libur Masing2 Perawat x jmlh
jam kerja tiap
perawat
= jumlah keperawatan yang
dibutuhkan /tahun
jumlah jam keperawatan yang
di berikan perawat/tahun
= jumlah perawat di
satu unit
Prinsip perhitungan rumus Gillies :
Jumlah Jam
keperawatan yang dibutuhkan klien perhari adalah :
a. waktu keperawatan langsung (rata rata 4-5
jam/klien/hari) dengan spesifikasi pembagian adalah : keperawatan mandiri (self
care) = ¼ x 4 = 1 jam , keperawatan partial (partial care ) = ¾ x
4 = 3 jam , keperawatan total (total care) = 1-1.5 x 4 = 4-6 jam dan
keperawatan intensif (intensive care) = 2 x 4 jam = 8 jam.
b. Waktu keperawatan tidak langsung
1) menurut RS Detroit (Gillies, 1994) = 38 menit/klien/hari
2) menurut Wolfe & Young ( Gillies, 1994) = 60
menit/klien/hari = 1 jam/klien/hari
c. Waktu penyuluhan kesehatan lebih kurang 15
menit/hari/klien = 0,25 jam/hari/klien
d. Rata rata klien per hari adalah
jumlah klien yang dirawat di suatu unit berdasarkan rata- rata biaya atau menurut Bed Occupancy Rate
(BOR) dengan rumus :
Jumlah hari perawatan RS dalam waktu
tertentu x 100 %
Jumlah
tempat tidur x 365 hari
e. Jumlah hari pertahun yaitu : 365
hari.
Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu : 73
hari ( hari minggu/libur = 52
hari ( untuk hari sabtu tergantung kebijakan rumah sakit setempat, kalau ini
merupakan hari libur maka harus diperhitungkan , begitu juga sebaliknya ), hari
libur nasional = 13 hari, dan cuti tahunan = 8 hari).
f. Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu
(kalau hari kerja efektif 6 hari maka 40/6 = 6.6 = 7 jam per hari, kalau hari kerja efektif 5 hari maka
40/5 = 8 jam per hari)
g. Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan disatu unit
harus ditambah 20% (untuk antisipasi kekurangan /cadangan ).
h. Perbandingan profesional berbanding dengan vocasional
= 55% : 45 %
Contoh
1) Rata rata jam perawatan klien per
hari = 5 jam/hari
2) Rata rata = 17 klien / hari (3 orang dengan
ketergantungan minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6 orang
dengan ketergantungan total)
3) Jumlah jam kerja tiap perawat = 40 jam/minggu ( 6
hari/minggu ) jadi jumlah jam kerja perhari 40 jam dibagi 6 = 7 jam /hari
4) Jumlah hari libur : 73 hari ( 52
+8 (cuti) + 13 (libur nasional)
Jumlah jam keperawatan langsung
1)
-
Ketergantungan minimal = 3 orang x 1 jam = 3
jam
2)
-
Ketergantungan partial = 8
orang x 3 jam = 24 jam
3)
- Ketergantungan total = 6 orang x 6 jam = 36
jam
Jumlah
jam = 63 jam
Jumlah keperawatan tidak langsung
17 orang klien x 1 jam = 17 jam
Pendidikan Kesehatan = 17 orang klien x 0,25 = 4,25
jam
Sehingga Jumlah total jam keperawatan /klien/hari :
63 jam + 17 jam + 4,25 jam = 4,96 Jam/klien/hari
17 pasien
Jadi,
1) Jumlah tenaga yang dibutuhkan :
4,96 x 17 x
365 = 30.776,8 =
15,06 orang ( 15 orang )
(365– 73) x
7 2044
2) Untuk cadangan 20% menjadi 15 x 20% = 3 orang
3) Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan secara keseluruhan
15 + 3 = 18 orang /hari
Perbandingan
profesional berbanding dengan vocasional = 55% : 45 % = 10 : 8 orang
4. Metode Swanburg
Contoh:
Pada suatu unit dengan 24 tempat tidur dan 17 klien
rata rata perhari .
Jumlah jam kontak langsung perawat – klien = 5 jam /klien/hari.
Jumlah jam kontak langsung perawat – klien = 5 jam /klien/hari.
a. total jam
perawat /hari : 17 x 5 jam = 85 jam jumlah
perawat yang dibutuhkan : 85 / 7 = 12,143 ( 12 orang) perawat/hari
b. Total jam kerja /minggu = 40 jam jumlah shift
perminggu = 12 x 7 (1 minggu) = 84 shift/minggu jumlah staf yang dibutuhkan
perhari = 84/6 = 14 orang (jumlah staf sama bekerja setiap hari dengan 6 hari
kerja perminggu dan 7 jam/shift)
Menurut Warstler
dalam Swansburg dan Swansburg (1999), merekomendasikan untuk pembagian proporsi dinas dalam
satu hari
pagi : siang : malam = 47 % : 36 % : 17 %
Sehingga jika jumlah total staf keperawatan /hari = 14 orang
a.
Pagi :
47% x 14 = 6,58 = 7 orang
b.
Sore :
36% x 14 = 5,04 = 5 orang
c.
Malam : 17%
x 14 = 2,38 = 2 orang
BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan
Hakekat ketenagakerjaan pada intinya adalah
pengaturan, mobilisasi potensi, proses motivasi, dan pengembangan sumber daya
manusia dalam memenuhi kepuasan melalui karyanya.
Prinsip – prinsip dalam ketenagakerjaan meliputi pembagian kerja, pendelegasian tugas, koordinasi, manajemen
waktu.
Analisa kebutuhan tenaga kerja
merupakan metode yang digunakan dalam menentukan kebutuhan tenaga kerja.
Metode-metode dalam perhitungan tenaga kerja meliputi metode Douglas, metode
Sistem Akuitas, metode Gillies, dan metode Swanburg.
DAFTAR PUSTAKA
Dirjend. Yanmed. Direktorat
Pelayanan keperawatan .2001.
Standar Ketenagaan Perawat dan Bidan di rumah Sakit. Jakarta : Depkes R.I.
Gillies, D.A. 1989 . Nursing Management : a System approach. Philadelphia : W.B. Sauders Company
Ilyas,Y. 2000. Perencanaan SDM Rumah Sakit : teori, metoda, formula. Jakarta : Pusat kajian Ekonomi Kesehatan FKM UI.
Musni ,R. 2001.Menghitung Tenaga Keperawatan di Rumah sakit. Jurnal : Keperawatan Indonesia.
Nursalam.2002. Manajemen Keperawatan
: Apliikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika
Swansburgs, R.C. 1990 . Management and Leadership for Nurse Managers. Boston : Jones and Barlett Publisher, Inc.
http://nabilayudhityalarasati.blogspot.com/2009/05/analisa-kebutuhan-tenaga-keperawatan-di.html Di
akses tanggal 24 Juli 2013, pukul 14.05 WIB
http://queenbeeieffa.blogspot.com/2011/11/perhitungan-tenaga-keperawatan.html
Di akses tanggal 24
Juli 2013, pukul
14.09 WIB
http://analisis-data.blogspot.com/2007/12/analisis-kebutuhan-tenaga-kerja.html Di akses tanggal 24
Juli 2013, pukul
14.24 WIB
